Friday, July 29, 2011

Mujahadah Para Salaf dan Ulama di Bulan Ramadhan

Benarlah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) tentang keunggulan generasi salaf:

“Sebaik-baik zaman adalah di zamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (atba’ tabi’in).” (Riwayat Bukhari).

Mujahadah salaf selama bulan Ramadhan membuktikan kebenaran sabda Rasulullah di atas. Khususnya dalam melakukan amalan shalat dan membaca Al Qur`an, mujahadah mereka amat susah untuk ditandingi oleh umat Islam generasi terakhir. Bahkan bisa jadi mereka menilai bahwa amalan itu mustahil dilakukan!

Dalam beberapa literatur Islam, seperti Hilyah Al Auliya karya Al Hafidz Abu Nu’aim dan Thabaqat Al Qura`n, karya Imam Ad Dzahabi, mujahadah para salaf, khususnya para tabi’in, terekam dengan baik. Bahkan dalam Al Hilyah, periwayatan itu disertai dengan sanad lengkap.

Nah, bagaimana sebanarnya mujahadah mereka selama bulan Ramadhan? Serta seperti apa persiapan mereka dalam menyambut bulan itu? Tulisan kali ini akan mengupas bagamana para salaf dan ulama bermujahadah di bulan mulia itu.

Salaf Khatamkan Al Qur`an dalam Dua Rakaat!
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur`an. Bahkan Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, bahwa di tiap tahunnya Jibril Alaihissalam membacakan Al Qur`an kepada Rasulullah SAW, dan itu dilakukan di tiap-tiap malam selama Ramadhan.
Oleh sebab itu, dengan berpedoman dengan hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa terus-menerus membaca Al Qur`an di bulan Ramadhan akan menambah kemulyaan bulan itu. (Fath Al Bari,9/52).

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan dengan didasari keimanan dan keikhlasan, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Riwayat Al Bukhari).
Karena itulah, para salaf dan ulama amat memperhatikan amalan tilawah, qiyam Ramadhan, serta pengkajian keilmuan, sehingga mereka siap bermujahadah dalam melakukan amalan-amalan itu.

Adalah Aswad bin Yazid An Nakha’i Al Kufi. Disebutkan dalam Hilyah Al Auliya (2/224) bahwa beliau mengkhatamkan Al Qur`an dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an dalam waktu 6 hari.

Tidak hanya bermujahadah dalam menghatamkan Al Qur`an, dalam ibadah shalat, Imam Adz Dzahabi menyebutkan bahwa tabi’in ini melakukan shalat 6 ratus rakaat dalam sehari semalam. (Al Ibar wa Al Idhadh, 1/86).

Adapula Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari “biasa”, tabi’in ini menghatamkan Al Qur`an sekali tiap pekan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau menghatamkan Al Qur`an sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya sekali dalam semalam .(Al Hilyah, 2/228).

Tabi’in lain, Abu Al Abbas Atha’ juga termasuk mereka yang “luar biasa” dalam tilawah. Di hari-hari biasa ia menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sehari. Tapi di bulan Ramadhan, Abu Al Abbas mempu menghatamkan 3 kali dalam sehari. (Al Hilyah 10/302).

Sedangkan Said bin Jubair, dalam Mir’ah Al Jinan, Al Yafi’i menyebutkan sebuah riwayat, bahwa di suatu saat tabi’in ini membaca Al Qur`an di Al Haram, lalu beliau berkata kepada Wiqa’ bin Abi Iyas pada bulan Ramadhan: “Pegangkan Mushaf ini”, dan ia tidak pernah beranjak dari tempat duduknya itu, kacuali setelah menghatamkan Al Qur`an.

Diriwayatkan juga dari Said bin Jubair, beliau pernah mengatakan: “Jika sudah masuk sepuluh hari terakhir, aku melakukan mujahadah yang hampir tidak mampu aku lakukan.”

Beliau juga menasehati: “Di malam sepuluh terakhir, jangan kalian matikan lentera.” Maksudnya, agar umat Islam menghidupkan malamnya dengan membaca Al Qur`an.

Thabaqat Fuqaha Madzhab An Nu’man Al Mukhtar, yang dinukil oleh Imam Laknawi dalam Iqamah Al Hujjah (71,72) disebutkan periwayatan bahwa dalam bulan Ramadhan Said bin Jubair mengimami shalat dengan dua qira`at, yakni qira`at Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit.

Manshur bin Zadan, termasuk tabi’in yang terekam amalannya di bulan diturunnya Al Qur`an ini. Hisham bin Hassan bercerita, bahwa di bulan Ramadhan, Manshur mampu menghatamkan Al Qur`an di antara shalat Maghrib dan Isya’, hal itu bisa beliau lakukan dengan cara mengakhirkan shalat Isya hingga seperempat malam berlalu. Dalam hari-hari biasapun beliau mampu menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sahari semalam. (Al Hilyah, 3/57).

Tidak ketinggalan pula Imam Mujahid, salah satu tabi’in yang pernah berguru langsung dengan Ibnu Abbas juga amat masyur dengan mujahadahnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan sanad yang shahih, bahwa tabi’in ahli tafsir ini juga menghatamkan Al Qur`an pada bulan Ramadhan di antara maghrib dan isya.

Dan informasi amalan salaf itu sulit untuk ditolak, karena periwatan tentang kabar mujahadah para salaf juga menyertakan sanad yang semua perawinya tsiqah, bahkan hingga kini sebagian tradisi itu masih tetap hidup di beberapa wilayah.

Di India pada abad 13 H atau kebiasaan shalat tarawih dengan menghatamkan 30 juz dalam semalam masih dilestarikan. Hal itu diketahui dari fatwa Imam Laknawi, ulama madzhab Hanafi dari India yang wafat 1304 H, mengenai bolehnya menghatamkan Al Qur`an 30 juz dalam semalam di waktu tarawih, guna merespon pertanyaan-pertanyaan mengenai kebiasaan umat Islam menghatamkan Al Qur`an dalam tarawih di zaman itu. (Iqamat Al Hujjah, 154)

Bahkan hingga kini di Mesir, khususnya di wilayah Hay (distrik) As Syafi’i Kairo, para huffadz Al Qur`an berkumpul untuk melaksanakan shalat tarawih di masjid Ibad Ar Rahman, yang dimulai setelah Isya’ dan baru selesai ketika tiba waktu sahur, karena sang imam menghatamkan Al Qur`an hingga 30 juz, dengan bacaan yang agak cepat, tanpa mengabaikan tajwid dan makharij al huruf (tempat-tempat keluarnya huruf). Tentu, amat berat untuk bisa mengikuti shalat tarawih hingga selesai di masjid ini, kecuali bagi mereka yang punya azam tinggi dan telah hafal Al Qur`an 30 juz.



Semoga dapat menjadi motivasi kita untuk beramal di bulan ramadan yang bakal menjelma!
wallahua'lam

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...